Senin, 09 Juni 2014

MAKALAH GITH



MAKALAH

Pengaruh Jenis Tanah dan Batuan Terhadap
Tipe Hutan dan Komposisi Jenis Pohon Penyusun Tegakan


Disusun Oleh:

                                                                         ASRINA
                                                                     M111 12 076


FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013


KATA PENGANTAR

Bismillahi rahmani rahim....................
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT,karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga makalah kami dapat terselesaikan dengan baik. Dan tak lupa pula kami kirimkan salam dan shalawat atas junjungan nabi besar  Muhammad saw,nabi yang telah mengantarkan kita dari zaman kebodohan menuju zaman yang penuh kemajuan dan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
Makalah ini dibuat berdasarkan tuntutan proses pembelajaran mata kuliah Geologi dan Ilmu Tanah Hutan. Dalam makalah ini, dibahas mengenai Pengaruh Jenis Tanah dan Batuan Terhadap Tipe Hutan Komposisi Jenis Pohon Penyususn Tegakan. Pembahasan mengenai materi tersebut kami sadur dari beberapa reverensi baik dari buku maupun dari internet.
Kami sadar bahwa kami hanya manusia biasa yang masih memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kami minta maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah kami masih terdapat banyak kekurangan.







Makassar, 08 Desember  2013
Penyusun



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah.........................................................................................1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................................2
C.     Tujuan Penulisan....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Penyebab Perbedaan Karakteristik Tanah..............................................................3 
B.     Jenis- Jenis Batuan Penyusun Tanah...........................................................9
C. Pengaruh Jenis Tanah dan Batuan Terhadap Tipe Hutan dan Komposisi Jenis Pohon Penyusun Tegakan..............................................................................................................10

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................................19
B.     Saran.................................................................................................................19
 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................20



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Makhluk hidup di dunia ini tak kan bisa lepas dari peranan tanah. Khusunya manusia, pasti akan membutuhkan tanah, yang secara umum dapat digunakan sebagai tempat tinggal, begitupun juga makhluk hidup yang lain yang berpijak di atas daratan berupa tanah.
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
Tanah memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda, misalnya yang berwarna merah, hitam, kelabu, ada yang bertekstur pasir, debu, liat dan sebagainya. Dan untuk membedakan sifat tanah tersebut dilakukan klasifikasi tanah, yaitu usaha untuk membeda-bedakan tanah berdasar atas sifat-sifat yang dimilikinya. Hal ini sangat penting karena tanah-tanah dengan sifat yang berbeda memerlukan perlakuan (pengelolaan) yang berbeda pula. Perbedaan karakteristik tanah tersebut mempengaruhi jenis-jenis tumbuhan yang dapat hidup pada jenis tanah tertentu.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang tersebut, maka terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
a.    Apa yang menyebabkan adanya perbedaan karakteristik tanah?
b.    Jenis batuan apa saja yang menyusun tanah?
c.    Bagaimana pengaruh jenis tanah dan batuan terhadap tipe hutan dan komposisi jenis pohon penyusun tegakan?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
a.    Mengetahui penyebab perbedaan karakteristik tanah.
b.    Mengetahui jenis batuan penyusun tanah.
c.    Mengetahui pengaruh jenis tanah dan batuan terhadap tipe hutan dan komposisi jenis pohon penyusun tegakan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Penyebab Perbedaan  Karakteristik  Tanah
Perbedaan jenis tanah dimuka bumi disebabkan oleh bahan penyusunnya, yaitu bahan mineral, bahan organik air dan udara. bahan-bahan penyusun tanah tersebut jumlah atau banyaknya masing-masing berbeda untuk setiap jenis lapisan tanah disetiap tempat. jadi disetiap daerah mempunyai jenis tanah yang berbeda. contohnya pada lahan kering atau lahan bukan persawahan umumnya tanahnya mengandung bahan mineral sebanyak 45 %, bahan organik 5 %, udara 20 %- 30 %, dan air 20 % 30 %.
a.    Bahan mineral
Bahanmineral yang terdapat di dalam tanah berasal dari batu-batuan yang mengalami pelapukan. Oleh Karena itu, susunan bahan mineral dalam tanah berbeda-beda sesuai dengan mineral yang terkandung dalam batuan.
b.   Bahan Organik
Bahan organik pada umumnya terdapat dipermukaan tanah. Meskipun jumlahnya tidak banyak, tetapi memiliki pengaruh yang besar terhadap sifat-sifat tanah dan bahan organik memegang peranan penting dalam pembentukan humus.
c.    Air
Air dapat tersi,pan dalam tanah karena ditahan atau diserap oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau Karena system drainase yang kurang baik. Air mengisi pori-pori di dalam tanah. Tertahannya air didalam tanah tersebut adalah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi.


d.   Udara
Sepeti halnya air, udara juga mengisi pori-pori dalam tanah yang tidak terisi air, terutama pori-pori yang berukuran mikro.
Berdasarkan dari bahan-bahan penyusun tersebut, tanah dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:
1.    Regosol 


Menurut USDA, regosol merupakan tanah yang termasuk ordo entisol. Secara umum, tanah entisol adalah tanah yang belum mengalami perkembangan yang sempurna, dan hanya memiliki horizon A yang marginal. Contoh yang tergolong entiso adalah tanah yang berada di sekitar aliran sungai, kumpulan debu vulkanik, dan pasir. Umur yang masih muda menjadikan entisol masih miskin sampah organik sehingga keadaannya kurang menguntungkan bagi sebagian tumbuhan. Secara spesifik, ciri regosol adalah berbutir kasar, berwarna kelabu sampai kuning,,dan bahan organik rendah. Sifat tanah yang demikian membuat tanah tidak dapat menampung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik. 
2.    Latosol
       Dalam USDA latosol masuk dalam golongan inseptisol. Inseptisol berkembang pada daerah yang lembab. Perkembangan horizon inseptisol berlangsung lambat samapi sedang. Perkembangan yang lambat terjadi karena tanah berada pada ligkungan yang lembab, dingin, dan mugkin genangan-genangan air. Secara spesifik, latosol merupakan tanah yang berwarna merah hingga coklat sehingga banyak yang menamainya sebagai tanah merah, memiliki profil tanah yang dalam, mudah menyerap air, mudah mneyerap air, memiliki kandungan bahan organik yang sedang, dan pH netral hingga asam. Kadar humus latosol mudah menurun, dan memiliki fosfat yang mudah bersenyawa dengan besi dan almunium. Latosol banyak dijumpai di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bali, Jawa, Minahasa, Papua, dan Sulawesi. Saat ini, jenis tanah latosol banyak digunakan untuk pertanaman palawija, padi, kelapa, karet, dan kopi.
3.    Organosol

       Organosol merupakan jenis tanah yang terbentuk akibat adanya pelapukan-pelapukan bahan organik. Sebagai hasil pelapukan bahan organik, tanah jenis ini subur untuk hampir semua jenis tanaman. Organosol dibedakan menjadi dua yaitu tanah humus dan tanah gambut. Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan dan pembusukan bahan organik khususnya dari tanaman yang sudah mati. Humus sangat subur untuk pertanian. Kandungan bahan organik yang tinggi membuat tanah humus berwarna kehitam-hitaman. Humus banyak dimanfaatka untuk media pertanaman kelapa, nanas, dan padi. Persebarannya banyak terdapat di pulau Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua.
4.    Alluvial
Menurut USDA, alluvial tergolong dalam ordo inseptisol. Ciri umum sama dengan pada tanah latosol. Alluvial merupakan tanah muda hasil pengendapan material halus aliran sungai. Cirri utama tanah alluvial adalah berwarna kelabu dengan struktur yang sedikit lepas-lepas. Kesuburan tanah alluvial sangat bergantung pada sumber bahan asal aliran sungai. Alluvial terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sungai-sungai besar seperti pada pulau jawa, Sumatra, Kalimantan, dan papua. Alluvial banyak dgunakan untuk tanaman padi, palawija, tebu, kelapa, tembakau, dan buah-buahan.
5.    Podzolik Merah Kuning 
Podzolik merah kuning merupakan bagian dari tanah Ultisol. Menurut USDA, ultisol adalah tanah yang sudah mengalami pencucian pada iklim tropis dan sub tropis. Karakter utama tanah ultisol adalah memiliki horizon A yang tipis, akumulasi lempung pada horizon Bt dan bersifat agak masam. Tanah ultisol bersifat agak lembab dengan kadar lengas tertinggi pada ultisol yang berbentuk bongkah. Tanah podzolik merah kuning sendiri merupakan tanah yang terbentuk karena curah hujan yang tinggi dan suhu yang rendah. Tanah podzolik merah kuning berwarna merah sampai kuning dengan kesuburan yang relatif rendah karena pencucian-pencucian. Podzolik merah kuning banyak digunakan untuk tanaman kelapa, jambu mete, karet, dan kelapa sawit. Podzolik merah kuning banyak dijumpai di daerah pegunungan Sumatra, Jawa Barat, Sulawesi, Maliku, Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara. 
6.    Laterit
Laterit hampir sama dengan podzolik meah kuning. Hanya saja jenis tanah ini terbentuk pada suhu yang lebih tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tanah laterit memiliki kandungan hara yang rendah sehingga kurang cocok untuk berbagai jenis tanaman. Laterit banyak dijumpai pada pegunungan yang hutannya sudah gundul seperti pada Jawa Tengah, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara. Laterit bayak digunakan untuk pertanaman jambu mete dan kelapa. 

7.    Litosol

Dalam USDA, litosol termasuk dalam ordo Entisol, sama dengan tanah regosol. Lebih spesifik, tanah litosol merupakan tanah muda yang berasal dari pelapukan batuan yang keras dan besar. Litosol belum mengalami perkembangan lebih lanjut sehingga hanya memiliki lapisan horizon yang dangkal. Sebagai tanah muda, latosol memiliki struktur yang besar-besar dan miskin akan unsur hara. Litosol banyak terdapat di Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara, Maluku Selatan, dan Papua. Latosol baru bisa dimanfaatkan untuk palawija.
8.    Rendzina

Rendzina merupakan tanah organik diatas bahan berkapur yang memiliki tekstur lempung seperti vertisol. Tanah redzina memiliki kadar lempung yang tinggi, teksturnya halus dan daya permeabilitasnya rendah sehingga kemampuan menahan air dan mengikat air tinggi. Tanah rendzina berasal daripelapukan batuan kapur dengan curah hujan yang tinggi. Tanah memiliki kandungan Ca dan Mg yang cukup tinggi, bersifat basa, berwarna hitam, serta hanya mengandung sedikit unsur hara.
9.    Tanah Mediteran 

Dalam USDA, tanah mediteran merupakan tanah ordo alfisol. Alfisol berkembang pada iklim lembab dan sedikit lembab. Curah hujan rata-rata untuk pembentukan tanah alfisol adalah 500 sampai 1300 mm tiap tahunnya. Alfisol banyak terdapat di bawah tanaman hutan dengan karakteristik tanah: akumulasi lempung pada horizon Bt, horizon E yang tipis, mampu menyediakan dan menampung banyak air, dan bersifat asam. Alfisol mempuyai tekstur lempung dan bahan induknya terdiri atas kapur sehingga permeabilitasnya lambat. Tanah mediteran merupakan hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan sedimen. Warna tanah ini berkisar antara merah sampai kecoklatan. Tanah mediteran banyak terdapat pada dasar-dasar dolina dan merupakan tanah pertanian yang subur di daerah kpur daripada jenis tanah kapur yang lainnya. tanah mediteran banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra. Mediteran cocok untuk tanaman palawija, jati, tembakau, dan jambu mete.
10.  Grumosol

Grumosol tergolong dalam ordo vertisol. Vertisol merupakan tanah dengan kandungan lempung yang sangat tinggi. Vertisol sangat lekat ketika basah, dan menjadi pecah-pecah ketika kering. Vertisol memiliki keampuan menyerap air yang tinggi dan juga mampu menimpan hara yang dibutuhkan tanaman. Grumosol sendiri merupakan tanah dengan warna kelabu hingga hitam serta memiliki pH netral hingga alkalis. Di Indonesia, jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 m di atas permukaan laut dengan topografi agak bergelombang hingga berbukit, temperatur rata-rata 25oC, curah hujan <2.500 mm, dengan pergantian musim hujan dan kemarau yang nyata.

B.     Jenis Batuan Penyusun Tanah
Berdasarkan proses terbentuknya, terdapat tiga jenis batuan yang menyusun lapisan kerak bumi. Tiga jenis batuan tersebut yaitu batuan beku (batuan magma atau vulkanik), batuan endapan (batuan sedimen), dan batuan malihan (batuan metamorf).
a.    Batuan Beku (Batuan Magma/Vulkanik)
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma yang membeku. Magma merupakan benda cair yang sangat panas dan terdapat di perut bumi. Magma yang mencapai permukaan bumi disebut lava. Semula batuan beku berupa lelehan magma yang besar.
b.   Batuan Endapan (Batuan Sedimen)
Batuan endapan adalah batuan yang terbentuk dari endapan hasil pelapukan batuan. Batuan ini dapat pula terbentuk dari batuan yang terkikis atau dari endapan sisa-sisa binatang dan tumbuhan.
c.    Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan malihan (metamorf) berasal dari batuan sedimen yang mengalami perubahan (metamorfosis). Batuan sedimen ini mengalami perubahan karena mendapat panas dan tekanan dari dalam Bumi. Jika mendapat panas terusmenerus, batuan ini akan berubah menjadi batuan malihan.
Batuan-batuan inilah yang selanjutnya menjadi tanah karena pelapukan. Batuan dapat mengalami pelapukan karena berbagai faktor, di antaranya cuaca dan kegiatan makhluk hidup. Faktor cuaca yang menyebabkan pelapukan batuan, misalnya suhu dan curah hujan. Pelapukan yang disebabkan oleh faktor cuaca ini disebut pelapukan fisika. Adapun makhluk hidup yang menyebabkan pelapukan, misalnya pepohonan dan lumut. Pelapukan yang disebabkan oleh aktivitas makhluk hidup ini disebut pelapukan biologi.


C.     Pengaruh Jenis Tanah dan Batuan Terhadap Tipe Hutan dan Komposisi Jenis Pohon Penyusun Tegakan
Tanah sebagai media tumbuh tanaman memiliki sifat dan karakteristik yang dapat dilihat dari sifat fisik, kimiawi , maupun biologisnya dimana ketiganya berintegrasi dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam pertumbuhan suatu tanaman.  Berikut ini penjabaran masing-masing sifat dan karakteristik tanah baik dari sifat fisika, kimiawi, maupun biologinya.
1.    Sifat Fisika Tanah
a.    Tekstur, menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separate) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relative antara fraksi pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay).
b.    Struktur, merupakan gumpalan tanah yang berasal dari partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya perekat misalnya eksudat akar, hifa jamur, lempung, humus, dll.
c.    Konsistensi, adalah derajad kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah.
d.   Porositas, adalah bagian yang tidak terisi bahan padat tanah (terisi oleh air dan udara).
e.    Warna tanah, secara langsung mempengaruhi penyerapan sinar matahari dan salah satu faktor penentu suhu tanah.
2.      Sifat Kimia Tanah
a.    Reaksi tanah (pH tanah), reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH.
b.    Kapasitas Tukar Kation (KTK), kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca2+, Mg+,, K+, Na+, NH4+, H+, Al3+, dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah.
c.    Kapasitas Pertukaran Anion (KTA), proses pertukaran anion berperan penting dalam kaitannya dengan ketersediaan 3 anion hara makro yang diserap tanaman, yaitu nitrat, fosfat, dan sulfat, yang secara alami dihasilkan dari dekomposisi bahan organic dan pelapukan mineral tanah.
d.   Unsur-unsur hara esensial, merupakan unsure hara yang diperlukan oleh tanaman dan fungsinya dalam tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh optimal. Unsur-unsur hara ini dapat berasal dari udara, air, atau tanah.
3.      Sifat Biologi Tanah
a.    Fauna tanah, yaitu hewan-hewan yang berperan dalam proses dekomposisi tanah.
b.    Flora tanah, yaitu organisme tingkat rendah yang berperan dalam proses pembentukan tanah.
Berdasarkan keadaan tanahnya, hutan dibedakan menjadi beberapa jenis. Keadaan tanah juga mempengaruhi komposisi jenis tegakan yang dapat tumbuh pada jenis hutan tertentu. Jenis-jenis hutan tersebut yaitu:
1.    Hutan Rawa (Swamp Forest)
Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh pada daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak dipengaruhi iklim. Pada umumnya terletak dibelakang hutan payau dengan jenis tanah aluvial dan aerasinya buruk. Tegakan hutan selalu hijau dengan pohon-pohon yang tinggi bisa mencapai 40 m dan terdiri atas banyak lapisan tajuk. Oleh karena hutan rawa ini mempunyai beberapa lapisan tajuk (beberapa stratum), maka bentuknya hampir menyerupai ekosistem hutan hujan tropis. Spesies-spesies pohon yang banyak terdapat dalam ekosistem hutan rawa antara lain Eucalyptus degulpta, Palaquium leiocarpum, Shorea uliginosa, Campnosperma macrophylla, Gareinia spp., Eugenia spp., Canarium spp.

Pada umumnya spesies-spesies tumbuhan yang ada di dalam ekosistem hutan rawa cendenmg berkelompok membentuk komunitas tumbuhan yang miskin spesies. Dengan kata lain, penyebaran spesies tumbuhan yang ada di ekosistem hutan rawa itu tidak merata.
Hutan rawa terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku dan Irian Jaya bagian Selatan.
2.      Hutan Pantai (Coastal Forest)
Tipe ekosistem hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Di daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan embusan garam.
Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat dalam ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia grandis. Selain spesies-spesies pohon tersebut, ternyata kadang-kadang terdapat juga spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia foetida.
Apabila dilihat perkembangan vegetasi yang ada di daerah pantai (litoral), maka sesungguhnya sering dijumpai dua formasi vegetasi, yaitu formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.
-       Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
Ipomea Pescaprae

-       Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (Nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (Waru Laut), Terminalia catapa (Ketapang).
Formasi Barringtonia

3.      Hutan Gambut (Peat Swamp Forest)
Hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas kawasan yang digenangi air dalam keadaan asam dengan pH 3,5 - 4,0. Hal itu tentunya menjadikan tanah sangat miskin hara.Tipe ekosistem hutan gambut ini berada pada daerah yang mempunyai tipe iklim A dan B (tipe iklim menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson), pada tanah organosol yang memiliki lapisan gambut setebal lebih dari 50 cm (Santoso,1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976). Hutan gambut itu pada umumnya terletak di antara hutan rawa dan hutan hujan.
Hutan Gambut
Vegetasi yang menyusun ekosistem hutan gambut merupakan spesies-spesies tumbuhan yang selalu hijau (evergreen). Spesies-spesies pohon yang banyak dijumpai di dalam ekosistem hutan gambut antara lain Alstonia spp., Dyera spp., Durio carinatus, Palaquium spp., Tristania spp., Eugenia spp., Cratoxylon arborescens, Tetramerista glabra, Dactyloeladus stenostachys, Diospyros spp., dan Myristica spp. Khusus di Kalimantan dan Sumatra Selatan, pada ekosistem hutan gambut banyak dijumpai Gonystylus spp.

4.      Hutan Payau (Mangrove Forest)
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut.
Contoh hutan mangrove
Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang, bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.
5.      Hutan Kerangas
Hutan kerangas atau keranggas yaitu hutan yang setelah ditebang atau dibakar tidak dapat ditanami padi karena mempunyai tanah podsol dengan pH 3-4 dan kandungan haranya rendah, ditemukan di daerah yang sangat kering, dengan tanah berpasir yang sangat miskin nutrisi.
Hutan Kerangas di Belitung
Hutan-hutan ini dicirikan oleh pepohonan spesies tertentu yang toleran terhadap buruknya kondisi tanah, yang juga mengandung asam, dan sangat tidak bisa dibandingkan dengan hutan hujan pada umumnya. Hutan ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah tumbuhan tropis lainnya.
6.      Hutan Tanah Kapur (Limestone Forest)
Hutan bukit kapur merupakan salah satu ekosistem hutan hujan dataran rendah yang unik karena memiliki kondisi morfologi dan sifat batuan yang berbeda dengan tipe ekosistem lainnya. Pada kondisi hutan ini biasanya jarang terdapat tanaman, sebab kondisi tanah yang ada tidak mampu menyimpan air dengan baik. keberhasilan vegetasi untuk dapat hidup di bukit kapur sangat ditentukan oleh ketahanannya terhadap kadar kalsium dan magnesium yang agak tinggi.
Hutan Karst
Pada tanah-tanah tipis yang subur dan kaya akan basa, pada permukaan yang kasar, licin, retak-retak dan dinding-dinding cadas yang terjal, dapat dihuni oleh vegetasi yang khas dan endemik bagi bukit kapur tersebut, dan hal inilah yang menyebabkan komposisi hutan bukit kapur agak berbeda dengan hutan dataran rendah lainnya.




BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Perbedaan jenis tanah dimuka bumi disebabkan oleh bahan penyusunnya, yaitu bahan mineral, bahan organik air dan udara.
Terdapat tiga jenis batuan yang menyusun lapisan kerak bumi. Tiga jenis batuan tersebut yaitu batuan beku (batuan magma atau vulkanik), batuan endapan (batuan sedimen), dan batuan malihan (batuan metamorf). Batuan-batuan inilah yang selanjutnya menjadi tanah karena pelapukan. Batuan dapat mengalami pelapukan karena berbagai faktor, di antaranya cuaca dan kegiatan makhluk hidup.
Berdasarkan keadaan tanahnya, hutan dibedakan menjadi beberapa jenis. Keadaan tanah juga mempengaruhi komposisi jenis tegakan yang dapat tumbuh pada jenis hutan tertentu.

B.     Saran
Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan dapat memberikan pengetahuan sedikit tentang pengaruh tanah dan batuan terhadap tipe hutan dan komposisi jenis penyusun tegakan.





DAFTAR PUSTAKA

Prasetyo, B. H. Dan Suriadikarta, D. A. 2006. Karakteristik, Potensi, Dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering Di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 25 (2). Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Balai Penelitian Tanah. Bogor.


Diakses pada tanggal 08 Desember 2013
Diakses pada tanggal 08 Desember 2013