MAKALAH
Pengaruh Jenis
Tanah dan Batuan Terhadap
Tipe Hutan
dan Komposisi Jenis Pohon Penyusun Tegakan
Disusun Oleh:
ASRINA
M111
12 076
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR
Bismillahi
rahmani rahim....................
Puji syukur
kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT,karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah
sehingga makalah kami dapat terselesaikan dengan baik. Dan tak lupa pula kami
kirimkan salam dan shalawat atas junjungan nabi besar Muhammad saw,nabi
yang telah mengantarkan kita dari zaman kebodohan menuju zaman yang penuh
kemajuan dan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
Makalah ini
dibuat berdasarkan tuntutan proses pembelajaran mata kuliah Geologi dan Ilmu
Tanah Hutan. Dalam makalah ini, dibahas mengenai Pengaruh Jenis Tanah dan
Batuan Terhadap Tipe Hutan Komposisi Jenis Pohon Penyususn Tegakan.
Pembahasan mengenai materi tersebut kami sadur dari beberapa reverensi baik
dari buku maupun dari internet.
Kami sadar
bahwa kami hanya manusia biasa yang masih memiliki keterbatasan ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu, kami minta maaf yang sebesar-besarnya apabila
dalam makalah kami masih terdapat banyak kekurangan.
Makassar, 08
Desember 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL
KATA
PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah.........................................................................................1
B. Rumusan
Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan
Penulisan....................................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Penyebab Perbedaan
Karakteristik Tanah..............................................................3
B. Jenis-
Jenis Batuan Penyusun Tanah...........................................................9
C. Pengaruh Jenis Tanah dan Batuan
Terhadap Tipe Hutan dan Komposisi Jenis Pohon Penyusun
Tegakan..............................................................................................................10
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan......................................................................................................19
B.
Saran.................................................................................................................19
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Makhluk
hidup di dunia ini tak kan bisa lepas dari peranan tanah. Khusunya manusia,
pasti akan membutuhkan tanah, yang secara umum dapat digunakan sebagai tempat
tinggal, begitupun juga makhluk hidup yang lain yang berpijak di atas daratan
berupa tanah.
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik
berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak
tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi
berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan
anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu,
Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota
(organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan
zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara
integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan
produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun
kehutanan.
Tanah
memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda, misalnya yang berwarna
merah, hitam, kelabu, ada yang bertekstur pasir, debu, liat dan sebagainya. Dan
untuk membedakan sifat tanah tersebut dilakukan klasifikasi tanah, yaitu usaha
untuk membeda-bedakan tanah berdasar atas sifat-sifat yang dimilikinya. Hal ini
sangat penting karena tanah-tanah dengan sifat yang berbeda memerlukan
perlakuan (pengelolaan) yang berbeda pula. Perbedaan karakteristik tanah
tersebut mempengaruhi jenis-jenis tumbuhan yang dapat hidup pada jenis tanah
tertentu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang
tersebut, maka terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
a.
Apa yang menyebabkan adanya
perbedaan karakteristik tanah?
b.
Jenis batuan apa saja yang menyusun
tanah?
c.
Bagaimana pengaruh jenis tanah dan
batuan terhadap tipe hutan dan komposisi jenis pohon penyusun tegakan?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah
ini yaitu:
a.
Mengetahui penyebab perbedaan
karakteristik tanah.
b.
Mengetahui jenis batuan penyusun
tanah.
c.
Mengetahui pengaruh jenis tanah dan
batuan terhadap tipe hutan dan komposisi jenis pohon penyusun tegakan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penyebab
Perbedaan Karakteristik Tanah
Perbedaan jenis tanah dimuka bumi disebabkan oleh
bahan penyusunnya, yaitu bahan mineral, bahan organik air dan udara.
bahan-bahan penyusun tanah tersebut jumlah atau banyaknya masing-masing berbeda
untuk setiap jenis lapisan tanah disetiap tempat. jadi disetiap daerah
mempunyai jenis tanah yang berbeda. contohnya pada lahan kering atau lahan
bukan persawahan umumnya tanahnya mengandung bahan mineral sebanyak 45 %, bahan
organik 5 %, udara 20 %- 30 %, dan air 20 % 30 %.
a. Bahan mineral
Bahanmineral yang terdapat di dalam tanah berasal dari
batu-batuan yang mengalami pelapukan. Oleh Karena itu, susunan bahan mineral
dalam tanah berbeda-beda sesuai dengan mineral yang terkandung dalam batuan.
b. Bahan Organik
Bahan organik pada umumnya terdapat dipermukaan tanah.
Meskipun jumlahnya tidak banyak, tetapi memiliki pengaruh yang besar terhadap
sifat-sifat tanah dan bahan organik memegang peranan penting dalam pembentukan
humus.
c. Air
Air dapat tersi,pan dalam tanah karena ditahan atau
diserap oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau Karena system
drainase yang kurang baik. Air mengisi pori-pori di dalam tanah. Tertahannya
air didalam tanah tersebut adalah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan
gravitasi.
d. Udara
Sepeti halnya air, udara juga mengisi pori-pori dalam
tanah yang tidak terisi air, terutama pori-pori yang berukuran mikro.
Berdasarkan dari
bahan-bahan penyusun tersebut, tanah dibedakan atas beberapa jenis, yaitu:
1. Regosol
Menurut USDA, regosol merupakan tanah yang termasuk ordo entisol. Secara
umum, tanah entisol adalah tanah yang belum mengalami perkembangan yang
sempurna, dan hanya memiliki horizon A yang marginal. Contoh yang tergolong
entiso adalah tanah yang berada di sekitar aliran sungai, kumpulan debu
vulkanik, dan pasir. Umur yang masih muda menjadikan entisol masih miskin
sampah organik sehingga keadaannya kurang menguntungkan bagi sebagian tumbuhan.
Secara spesifik, ciri regosol adalah berbutir kasar, berwarna kelabu sampai
kuning,,dan bahan organik rendah. Sifat tanah yang demikian membuat tanah tidak
dapat menampung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik.
2. Latosol
Dalam USDA latosol masuk dalam golongan
inseptisol. Inseptisol berkembang pada daerah yang lembab. Perkembangan horizon
inseptisol berlangsung lambat samapi sedang. Perkembangan yang lambat terjadi
karena tanah berada pada ligkungan yang lembab, dingin, dan mugkin
genangan-genangan air. Secara spesifik, latosol merupakan tanah yang
berwarna merah hingga coklat sehingga banyak yang menamainya sebagai tanah
merah, memiliki profil tanah yang dalam, mudah menyerap air, mudah mneyerap
air, memiliki kandungan bahan organik yang sedang, dan pH netral hingga asam.
Kadar humus latosol mudah menurun, dan memiliki fosfat yang mudah bersenyawa
dengan besi dan almunium. Latosol banyak dijumpai di Sumatra Utara, Sumatra
Barat, Bali, Jawa, Minahasa, Papua, dan Sulawesi. Saat ini, jenis tanah latosol
banyak digunakan untuk pertanaman palawija, padi, kelapa, karet, dan kopi.
3. Organosol
Organosol merupakan jenis
tanah yang terbentuk akibat adanya pelapukan-pelapukan bahan organik. Sebagai
hasil pelapukan bahan organik, tanah jenis ini subur untuk hampir semua jenis
tanaman. Organosol dibedakan menjadi dua yaitu tanah humus dan tanah gambut. Tanah
humus adalah tanah hasil pelapukan dan pembusukan bahan organik khususnya dari
tanaman yang sudah mati. Humus sangat subur untuk pertanian. Kandungan bahan
organik yang tinggi membuat tanah humus berwarna kehitam-hitaman. Humus banyak
dimanfaatka untuk media pertanaman kelapa, nanas, dan padi. Persebarannya
banyak terdapat di pulau Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua.
4. Alluvial
Menurut USDA, alluvial tergolong
dalam ordo inseptisol. Ciri umum sama dengan pada tanah latosol. Alluvial
merupakan tanah muda hasil pengendapan material halus aliran sungai. Cirri
utama tanah alluvial adalah berwarna kelabu dengan struktur yang sedikit
lepas-lepas. Kesuburan tanah alluvial sangat bergantung pada sumber bahan asal
aliran sungai. Alluvial terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia yang
memiliki sungai-sungai besar seperti pada pulau jawa, Sumatra, Kalimantan, dan
papua. Alluvial banyak dgunakan untuk tanaman padi, palawija, tebu, kelapa,
tembakau, dan buah-buahan.
5. Podzolik Merah Kuning
Podzolik merah kuning merupakan bagian dari tanah
Ultisol. Menurut USDA, ultisol adalah tanah yang sudah mengalami pencucian pada
iklim tropis dan sub tropis. Karakter utama tanah ultisol adalah memiliki
horizon A yang tipis, akumulasi lempung pada horizon Bt dan bersifat agak
masam. Tanah ultisol bersifat agak lembab dengan kadar lengas tertinggi pada
ultisol yang berbentuk bongkah. Tanah podzolik merah kuning sendiri
merupakan tanah yang terbentuk karena curah hujan yang tinggi dan suhu yang
rendah. Tanah podzolik merah kuning berwarna merah sampai kuning dengan
kesuburan yang relatif rendah karena pencucian-pencucian. Podzolik merah kuning
banyak digunakan untuk tanaman kelapa, jambu mete, karet, dan kelapa sawit.
Podzolik merah kuning banyak dijumpai di daerah pegunungan Sumatra, Jawa Barat,
Sulawesi, Maliku, Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara.
6. Laterit
Laterit
hampir sama dengan podzolik meah kuning. Hanya saja jenis tanah ini terbentuk
pada suhu yang lebih tinggi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tanah laterit
memiliki kandungan hara yang rendah sehingga kurang cocok untuk berbagai jenis
tanaman. Laterit banyak dijumpai pada pegunungan yang hutannya sudah gundul
seperti pada Jawa Tengah, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi
Tenggara. Laterit bayak digunakan untuk pertanaman jambu mete dan kelapa.
7. Litosol
Dalam USDA, litosol termasuk dalam ordo Entisol, sama dengan tanah regosol.
Lebih spesifik, tanah litosol merupakan tanah muda yang berasal dari pelapukan
batuan yang keras dan besar. Litosol belum mengalami perkembangan lebih lanjut
sehingga hanya memiliki lapisan horizon yang dangkal. Sebagai tanah muda,
latosol memiliki struktur yang besar-besar dan miskin akan unsur
hara. Litosol banyak terdapat di Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa
Tenggara, Maluku Selatan, dan Papua. Latosol baru bisa dimanfaatkan untuk
palawija.
8. Rendzina
Rendzina merupakan tanah organik diatas bahan berkapur yang memiliki
tekstur lempung seperti vertisol. Tanah redzina memiliki kadar lempung yang
tinggi, teksturnya halus dan daya permeabilitasnya rendah sehingga kemampuan
menahan air dan mengikat air tinggi. Tanah rendzina berasal daripelapukan
batuan kapur dengan curah hujan yang tinggi. Tanah memiliki kandungan Ca dan Mg
yang cukup tinggi, bersifat basa, berwarna hitam, serta hanya mengandung
sedikit unsur hara.
9. Tanah Mediteran
Dalam USDA, tanah mediteran merupakan tanah ordo
alfisol. Alfisol berkembang pada iklim lembab dan sedikit lembab. Curah hujan
rata-rata untuk pembentukan tanah alfisol adalah 500 sampai 1300 mm tiap
tahunnya. Alfisol banyak terdapat di bawah tanaman hutan dengan karakteristik
tanah: akumulasi lempung pada horizon Bt, horizon E yang
tipis, mampu menyediakan dan menampung banyak air, dan bersifat asam.
Alfisol mempuyai tekstur lempung dan bahan induknya terdiri atas kapur sehingga
permeabilitasnya lambat. Tanah mediteran merupakan hasil pelapukan batuan
kapur keras dan batuan sedimen. Warna tanah ini berkisar antara merah sampai
kecoklatan. Tanah mediteran banyak terdapat pada dasar-dasar dolina dan
merupakan tanah pertanian yang subur di daerah kpur daripada jenis tanah kapur
yang lainnya. tanah mediteran banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah,
Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sumatra. Mediteran cocok untuk tanaman
palawija, jati, tembakau, dan jambu mete.
10. Grumosol
Grumosol tergolong dalam ordo vertisol. Vertisol merupakan tanah dengan
kandungan lempung yang sangat tinggi. Vertisol sangat lekat ketika basah, dan
menjadi pecah-pecah ketika kering. Vertisol memiliki keampuan menyerap air yang
tinggi dan juga mampu menimpan hara yang dibutuhkan tanaman. Grumosol sendiri
merupakan tanah dengan warna kelabu hingga hitam serta memiliki pH netral
hingga alkalis. Di Indonesia, jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang
tingginya tidak lebih dari 300 m di atas permukaan laut dengan topografi agak
bergelombang hingga berbukit, temperatur rata-rata 25oC, curah hujan <2.500
mm, dengan pergantian musim hujan dan kemarau yang nyata.
B. Jenis
Batuan Penyusun Tanah
Berdasarkan
proses terbentuknya, terdapat tiga jenis batuan yang menyusun lapisan kerak
bumi. Tiga jenis batuan tersebut yaitu batuan beku (batuan magma atau
vulkanik), batuan endapan (batuan sedimen), dan batuan malihan (batuan
metamorf).
a.
Batuan Beku
(Batuan Magma/Vulkanik)
Batuan beku adalah batuan yang
terbentuk dari magma yang membeku. Magma merupakan benda cair yang sangat panas
dan terdapat di perut bumi. Magma yang mencapai permukaan bumi disebut lava.
Semula batuan beku berupa lelehan magma yang besar.
b. Batuan Endapan (Batuan Sedimen)
Batuan endapan adalah batuan yang
terbentuk dari endapan hasil pelapukan batuan. Batuan ini dapat pula terbentuk
dari batuan yang terkikis atau dari endapan sisa-sisa binatang dan tumbuhan.
c. Batuan
Malihan (Metamorf)
Batuan malihan (metamorf) berasal dari batuan
sedimen yang mengalami perubahan (metamorfosis). Batuan sedimen ini mengalami
perubahan karena mendapat panas dan tekanan dari dalam Bumi. Jika mendapat
panas terusmenerus, batuan ini akan berubah menjadi batuan malihan.
Batuan-batuan
inilah yang selanjutnya menjadi tanah karena pelapukan. Batuan dapat mengalami
pelapukan karena berbagai faktor, di antaranya cuaca dan kegiatan makhluk
hidup. Faktor cuaca yang menyebabkan pelapukan batuan, misalnya suhu dan curah
hujan. Pelapukan yang disebabkan oleh faktor cuaca ini disebut pelapukan
fisika. Adapun makhluk hidup yang menyebabkan pelapukan, misalnya pepohonan dan
lumut. Pelapukan yang disebabkan oleh aktivitas makhluk hidup ini disebut
pelapukan biologi.
C.
Pengaruh Jenis Tanah dan Batuan
Terhadap Tipe Hutan dan Komposisi Jenis Pohon Penyusun Tegakan
Tanah sebagai media tumbuh tanaman
memiliki sifat dan karakteristik yang dapat dilihat dari sifat fisik, kimiawi ,
maupun biologisnya dimana ketiganya berintegrasi dan saling mempengaruhi satu
sama lain dalam pertumbuhan suatu tanaman. Berikut ini penjabaran
masing-masing sifat dan karakteristik tanah baik dari sifat fisika, kimiawi,
maupun biologinya.
1.
Sifat Fisika
Tanah
a. Tekstur, menunjukkan
komposisi partikel penyusun tanah (separate) yang dinyatakan sebagai perbandingan
proporsi (%) relative antara fraksi pasir (sand), debu (silt),
dan liat (clay).
b. Struktur, merupakan gumpalan tanah yang berasal dari
partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya
perekat misalnya eksudat akar, hifa jamur, lempung, humus, dll.
c. Konsistensi, adalah derajad kohesi dan adhesi antara
partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk
oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah.
d. Porositas, adalah
bagian yang tidak terisi bahan padat tanah (terisi oleh air dan udara).
e. Warna tanah, secara
langsung mempengaruhi penyerapan sinar matahari dan salah satu faktor penentu
suhu tanah.
2.
Sifat Kimia Tanah
a. Reaksi tanah (pH tanah), reaksi
tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan
nilai pH.
b. Kapasitas Tukar Kation (KTK), kation
adalah ion bermuatan positif seperti Ca2+, Mg+,, K+,
Na+, NH4+, H+, Al3+,
dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air
tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah.
c. Kapasitas Pertukaran Anion (KTA), proses
pertukaran anion berperan penting dalam kaitannya dengan ketersediaan 3 anion
hara makro yang diserap tanaman, yaitu nitrat, fosfat, dan sulfat, yang secara
alami dihasilkan dari dekomposisi bahan organic dan pelapukan mineral tanah.
d. Unsur-unsur hara esensial, merupakan
unsure hara yang diperlukan oleh tanaman dan fungsinya dalam tanaman tidak
dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila tidak terdapat dalam jumlah
yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh optimal. Unsur-unsur hara
ini dapat berasal dari udara, air, atau tanah.
3.
Sifat
Biologi Tanah
a. Fauna tanah,
yaitu hewan-hewan yang berperan dalam proses dekomposisi tanah.
b. Flora tanah,
yaitu organisme tingkat rendah yang berperan dalam proses pembentukan tanah.
Berdasarkan keadaan tanahnya, hutan
dibedakan menjadi beberapa jenis. Keadaan tanah juga mempengaruhi komposisi
jenis tegakan yang dapat tumbuh pada jenis hutan tertentu. Jenis-jenis hutan tersebut
yaitu:
1. Hutan Rawa
(Swamp Forest)
Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh pada daerah-daerah yang selalu
tergenang air tawar, tidak dipengaruhi iklim. Pada umumnya terletak dibelakang
hutan payau dengan jenis tanah aluvial dan aerasinya buruk. Tegakan hutan
selalu hijau dengan pohon-pohon yang tinggi bisa mencapai 40 m dan terdiri atas
banyak lapisan tajuk. Oleh karena
hutan rawa ini mempunyai beberapa lapisan tajuk (beberapa stratum), maka
bentuknya hampir menyerupai ekosistem hutan hujan tropis. Spesies-spesies pohon
yang banyak terdapat dalam ekosistem hutan rawa antara lain Eucalyptus
degulpta, Palaquium leiocarpum, Shorea uliginosa, Campnosperma macrophylla,
Gareinia spp., Eugenia spp., Canarium spp.
Pada
umumnya spesies-spesies tumbuhan yang ada di dalam ekosistem hutan rawa
cendenmg berkelompok membentuk komunitas tumbuhan yang miskin spesies. Dengan
kata lain, penyebaran spesies tumbuhan yang ada di ekosistem hutan rawa itu
tidak merata.
Hutan rawa terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di
Sumatra bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku dan Irian
Jaya bagian Selatan.
2.
Hutan Pantai
(Coastal Forest)
Tipe
ekosistem hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan
kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang
tertinggi. Di daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air laut,
namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan embusan garam.
Spesies-spesies
pohon yang pada umumnya terdapat dalam ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia
asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus
tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia grandis. Selain
spesies-spesies pohon tersebut, ternyata kadang-kadang terdapat juga spesies
pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia foetida.
Apabila
dilihat perkembangan vegetasi yang ada di daerah pantai (litoral), maka
sesungguhnya sering dijumpai dua formasi vegetasi, yaitu formasi Pescaprae dan
formasi Barringtonia.
-
Formasi Pres-Caprae; Pada formasi
ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah
Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto,
Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens
(babakoan).
Ipomea
Pescaprae
-
Formasi Baringtonia; Vegetasi
dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (Nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus
(Waru Laut), Terminalia catapa (Ketapang).
Formasi Barringtonia
3.
Hutan Gambut
(Peat Swamp Forest)
Hutan
gambut adalah hutan yang tumbuh di atas kawasan yang digenangi air dalam
keadaan asam dengan pH 3,5 - 4,0. Hal itu tentunya menjadikan tanah sangat
miskin hara.Tipe ekosistem hutan gambut ini berada pada daerah
yang mempunyai tipe iklim A dan B (tipe iklim menurut klasifikasi Schmidt dan
Ferguson), pada tanah organosol yang memiliki lapisan gambut setebal lebih dari
50 cm (Santoso,1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976). Hutan gambut itu
pada umumnya terletak di antara hutan rawa dan hutan hujan.
Hutan Gambut
Vegetasi
yang menyusun ekosistem hutan gambut merupakan spesies-spesies tumbuhan yang
selalu hijau (evergreen). Spesies-spesies pohon yang banyak dijumpai di
dalam ekosistem hutan gambut antara lain Alstonia spp., Dyera spp., Durio
carinatus, Palaquium spp., Tristania spp., Eugenia spp., Cratoxylon
arborescens, Tetramerista glabra, Dactyloeladus stenostachys, Diospyros spp., dan
Myristica spp. Khusus di Kalimantan dan Sumatra Selatan, pada ekosistem
hutan gambut banyak dijumpai Gonystylus spp.
4.
Hutan Payau
(Mangrove Forest)
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang
tumbuh di atas rawa-rawa
berair payau yang terletak pada garis pantai
dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.
Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan
akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang
terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana
air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Sebagai wilayah
pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah
hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat
bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik
ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di
atas tanah bergambut. Substrat yang
lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di
pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu
karang. Ekosistem
hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan
kurangnya aerasi tanah; salinitas
tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air
laut.
Contoh
hutan mangrove
Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan
gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya
mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).
Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang
miskin oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan
tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan
gelombang, bila keadaan pantai
sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.
5. Hutan
Kerangas
Hutan kerangas atau
keranggas yaitu hutan yang
setelah ditebang atau dibakar tidak dapat ditanami padi karena mempunyai tanah
podsol dengan pH 3-4 dan kandungan haranya rendah, ditemukan
di daerah yang sangat kering, dengan tanah berpasir yang sangat miskin nutrisi.
Hutan
Kerangas di Belitung
Hutan-hutan ini dicirikan oleh pepohonan
spesies tertentu yang toleran terhadap buruknya kondisi tanah, yang juga
mengandung asam, dan sangat tidak bisa dibandingkan dengan hutan hujan pada
umumnya. Hutan ini juga
memiliki keanekaragaman hayati yang lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah
tumbuhan tropis lainnya.
6. Hutan
Tanah Kapur (Limestone Forest)
Hutan
bukit kapur merupakan salah satu ekosistem hutan hujan dataran rendah yang unik
karena memiliki kondisi morfologi dan sifat batuan yang berbeda dengan tipe
ekosistem lainnya. Pada
kondisi hutan ini biasanya jarang terdapat tanaman, sebab kondisi tanah yang
ada tidak mampu menyimpan air dengan baik. keberhasilan vegetasi untuk dapat
hidup di bukit kapur sangat ditentukan oleh ketahanannya terhadap kadar kalsium
dan magnesium yang agak tinggi.
Hutan
Karst
Pada
tanah-tanah tipis yang subur dan kaya akan basa, pada permukaan yang kasar,
licin, retak-retak dan dinding-dinding cadas yang terjal, dapat dihuni oleh
vegetasi yang khas dan endemik bagi bukit kapur tersebut, dan hal inilah yang
menyebabkan komposisi hutan bukit kapur agak berbeda dengan hutan dataran
rendah lainnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perbedaan
jenis tanah dimuka bumi disebabkan oleh bahan penyusunnya, yaitu bahan mineral,
bahan organik air dan udara.
Terdapat
tiga jenis batuan yang menyusun lapisan kerak bumi. Tiga jenis batuan tersebut
yaitu batuan beku (batuan magma atau vulkanik), batuan endapan (batuan
sedimen), dan batuan malihan (batuan metamorf). Batuan-batuan
inilah yang selanjutnya menjadi tanah karena pelapukan. Batuan dapat mengalami
pelapukan karena berbagai faktor, di antaranya cuaca dan kegiatan makhluk hidup.
Berdasarkan
keadaan tanahnya, hutan dibedakan menjadi beberapa jenis. Keadaan tanah juga
mempengaruhi komposisi jenis tegakan yang dapat tumbuh pada jenis hutan
tertentu.
B. Saran
Semoga
makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan dapat
memberikan pengetahuan sedikit tentang pengaruh tanah dan batuan terhadap tipe
hutan dan komposisi jenis penyusun tegakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Prasetyo, B. H. Dan Suriadikarta, D. A. 2006. Karakteristik, Potensi, Dan
Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering
Di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 25 (2). Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Balai Penelitian Tanah. Bogor.
http://acehpedia.org/Tipelogi_Hutan_Indonesia#Hutan_Rawa___.28swamp_forest.29.
Diakses pada tanggal 08 Desember 2013
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/klasifikasi-kemampuan-lahan/.
Diakses pada tanggal 08 Desember 2013
http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/peranan-manfaat-dan-fungsi-hutan.html.
Diakses pada tanggal 08 Desember 2013
Diakses
pada tanggal 08 Desember 2013
Diakses
pada tanggal 08 Desember 2013